Bukannya ikut-ikutan Om Riyogarta yang bisa kejam , tapi memang pada kondisi tertentu, galak atau kejam merupakan tuntutan. Tapi judulnya bo...
Bukannya ikut-ikutan Om Riyogarta yang bisa kejam, tapi memang pada kondisi tertentu, galak atau kejam merupakan tuntutan. Tapi judulnya boleh lah sedikit ikut-ikutan dengan marketing a la 3 yang sangat sukses dengan kata MAU yang ditiru oleh banyak orang termasuk saya kali ini :D. Selamat buat 3, semoga pelanggannya juga bertambah banyak, sehingga yang sukses bukan hanya iklannya, tapi juga pelanggan dan pendapatan :) (tapi kok terus-terusan ngasih tarif gratis, kira-kira balik modalnya kapan ya??ahh itu mah urusan mereka :D ).
Kisahnya berawal dari *halahh* tulisan saya berjudul "Lagi, Software Karya Anak Bangsa" yang menurut saya mendapat respon kurang sedap dari beberapa oknum pada akhir-akhir ini dengan mencoba berkomentar di artikel tersebut. Artikel tersebut saya tulis di bulan Juli 2007 kemarin. Membahas mengenai salah satu produk buatan anak bangsa berupa software penerjemah yang bisa bicara bernama SMART TRANSLATOR yang dikembangkan oleh Dr. Ary dan tim dari Mark-IT.
Sebelumna sih komentar-komentar yang masuk itu bagus-bagus, seperti salut, selamat, keren, harapan dan sebagainya. Tapi akhir-akhir ini ada yang mencoba untuk berkomentar, namun isinya lebih bersifat merugikan, untung saja karena dulu dulunya belum pernah berkomentar, sehingga masuk ke moderation terlebih dahulu. Komentar pertama ketika masuk ke moderasi langsung kuhapus, komentar kedua juga begitu, akhirnya setelah komentar untuk yang ketiga saya anggap sebagai spam. Ehhhh berikutnya oknum tersebut komentar lagi, sekarang masih kubiarkan.
Sebenarnya, apa isi dari komentar itu?
Komentar tersebut isinya mengenai cara-cara meng crack software Smart Translator dilengkapi dengan link download software dan crack dari program itu.
Loh, cuman gitu saja kok dipermasalahkan?
Ya, bagi saya ini adalah masalah. Ahhh....Indonesia baru akan berkembang teknologi informasinya, mereka para developer itu susah-susah mengembangkan suatu program yang sebenarnya juga untuk memberi kontribusi terhadap bangsa sendiri. Tapi bagaimana respon dari masyarakatnya? Ada sebagian orang yang dengan tega memakan saudara sendiri??????? Okelah, sampai tataran ini masih agak sedikit maklum karena yang memiliki mental seperti ini juga sangat banyak di Indonesia. Ehhhh...ditambah lagi, setelah memakan saudara sendiri, mencoba memberi tahu orang lain mengikuti cara dia untuk memakan saudara sendiri!!!! Kalau emang loe gak mau sadar dan makan saudara loe sendiri, makan aja sepuasnya...tapi jangan ajakin orang lain dunk!!!!
Di situsnya, oknum tersebut memberikan alasan yang kelihatannya logis namun menyesatkan seperti ini :
Jika tidak kuat membayar ya sudah kita cari software yang lisensinya free. Mungkin secara kualitas tidak sebanding, namun pasti sudah mencukupi kebutuhan. Please dunk kita menghargai karya saudara kita sendiri, Kalau kita memberikan apresiasi yang bagus kepada pengembang lokal, niscaya mereka akan lebih semangat lagi untuk mengembangkan karya-karya lebih bagus lagi. Tentunya akan semakin membuat kualitas SDM kita naik. Tapi kalau mau coba bikin program sesuatu saja, sudah dibajak..ya sudah.....mereka akan menjadi lamban kurang semangat. Jadi, kita sendirilah penyebab dari lambannya kemajuan bangsa ini.
Selain itu, karena situs ini di host di hosting impian yang memang mengharuskan bebas dari berbagai konten ilegal, maka saya harus tetap menjaganya jangan sampai saya sendiri dan orang lain memasukkan konten terlarang disini seperti sharing file ilegal (MP3, softaware dlsb), konten pornografi dan sebagainya.
Kasus lain?
Ada juga komentator lain yang sudah terlanjur ku approve karena kurang teliti dan memang tidak memberikan link download, pikirku tidak masalah. Ehhh beberapa hari kemudian ada inbound link dari blogger tersebut yang mencomot semua isi dari artikelku tersebut mentah-mentah. Saya sih gak masalah mereka mau mengcopy konten dari blog ini, jelek-jelek gini ada beberapa orang yang mengcopy artikel di blogku ini ke situs mereka (blog/portal). Apalagi, komentator tersebut juga memberikan trackback ke blogku. Cuman masalahnya, dibawah artikelku tersebut, ditambahi informasi harga dari software tersebut yang harganya tidak sesuai dengan harga di pasaran. Sangat murah dibanding harga normal, dia memberi harga Rp. 100.000 padahal harga normalnya adalah Rp. 880.000.Perbedaan harga yang cukup jauh bisa ditebak bahwa program yang dijual tersebut bukan produk legal.
Masih ada lagi?
Saya juga menulis artikel berjudul "Kehadiran First Media dengan Breakthrough Tarif Internet Murah Cepat". Komentar yang ada pun cukup beragam, tapi lagi-lagi ada komentator yang membuat saya agak risih lagi. Dikomentar tersebut, dia menulis mengenai akses internet gratis dari Fren dengan membayar Rp. 150.000, kemudian memberikan link cara-caranya. Komentar diblogku sih masih biasa, kemudian membuka link ke blog yang dimaksud. Hahhh....hanya cara-cara untuk akses internet gratis dari Fren yang sebenarnya juga banyak yang sudah tahu, tapi dia memungut bayaran 150.000 dengan alasan untuk membeli IP di salah satu negara yang akses internetnya gratis.
Katanya sih, dia meminjam koneksi dari Fren untuk mengunakan IP ke luar negeri yang gratis akses internetnya sehingga yang menggunakan cara tersebut jadi gratis. Meminjam??? Memangnya loe loe pada udah minta ijin ke Fren? Kalau memang sudah minta ijin ke Fren dan mereka mengijinkan sih no problemo. Tapi saya sangat yakin kalau ini tidak minta ijin. Menggunakan atau memanfaatkan barang orang lain tanpa ijin disebut........
Lagi-lagi siapa yang dirugikan? Tentu bangsa sendiri yang dalam kasus ini adalah Mobile-8. Logika saya sih, untuk koneksi dalam negeri saja membutuhkan biaya, apalagi menggunakan koneksi dari negara lain, tentu ada biayanya juga. Berapa banyak kerugian dari operator tersebut dengan adanya pencurian ini. Tentunya pemegang saham yang kebanyakan juga bangsa sendiri akan memperoleh dampaknya.
Finally, semoga kita menjadi lebih menghargai karya bangsa sendiri, akan lebih baik lagi kalau kita andil di dalamnya sehingga semakin banyak orang-orang Indonesia yang mengharumkan bangsa. Maaf juga jika tulisan saya terlihat agak emosi...karena saya cinta Indonesia, dan sangat ingin melihat negara ini menjadi negara maju terutama di dukung oleh teknologi informasi. Paling tidak adalah sejajar dengan negara lain, sehingga negara tetangga (you know lah) tidak terus menerus melecehkan kita sebagai negara berdaulat dengan berbagai kekayaan kita yang diakui sebagai kekayaan mereka. Kita tidak lagi mengekspor buruh tenaga kasar, pembantu, tetapi mengekspor tenaga-tenaga ahli. Kalau perlu, kita yang mengimpor buruh tenaga kasar ataupun pembantu dari negara lain!
ps: peringatan kepada pihak yang akan kumaksud, jangan coba-coba untuk kirim komentar lagi berisi hal serupa (atau mengambil artikel dari blog ini dengan tujuan untuk mencari keuntungan sendiri yang merugikan pihak lain). Karena saya akan melaporkan Anda kepada pihak yang berwajib atau kepada pihak yang merasa dirugikan dengan hal tersebut! Harap Maklum.
Kisahnya berawal dari *halahh* tulisan saya berjudul "Lagi, Software Karya Anak Bangsa" yang menurut saya mendapat respon kurang sedap dari beberapa oknum pada akhir-akhir ini dengan mencoba berkomentar di artikel tersebut. Artikel tersebut saya tulis di bulan Juli 2007 kemarin. Membahas mengenai salah satu produk buatan anak bangsa berupa software penerjemah yang bisa bicara bernama SMART TRANSLATOR yang dikembangkan oleh Dr. Ary dan tim dari Mark-IT.
Sebelumna sih komentar-komentar yang masuk itu bagus-bagus, seperti salut, selamat, keren, harapan dan sebagainya. Tapi akhir-akhir ini ada yang mencoba untuk berkomentar, namun isinya lebih bersifat merugikan, untung saja karena dulu dulunya belum pernah berkomentar, sehingga masuk ke moderation terlebih dahulu. Komentar pertama ketika masuk ke moderasi langsung kuhapus, komentar kedua juga begitu, akhirnya setelah komentar untuk yang ketiga saya anggap sebagai spam. Ehhhh berikutnya oknum tersebut komentar lagi, sekarang masih kubiarkan.
Sebenarnya, apa isi dari komentar itu?
Komentar tersebut isinya mengenai cara-cara meng crack software Smart Translator dilengkapi dengan link download software dan crack dari program itu.
Loh, cuman gitu saja kok dipermasalahkan?
Ya, bagi saya ini adalah masalah. Ahhh....Indonesia baru akan berkembang teknologi informasinya, mereka para developer itu susah-susah mengembangkan suatu program yang sebenarnya juga untuk memberi kontribusi terhadap bangsa sendiri. Tapi bagaimana respon dari masyarakatnya? Ada sebagian orang yang dengan tega memakan saudara sendiri??????? Okelah, sampai tataran ini masih agak sedikit maklum karena yang memiliki mental seperti ini juga sangat banyak di Indonesia. Ehhhh...ditambah lagi, setelah memakan saudara sendiri, mencoba memberi tahu orang lain mengikuti cara dia untuk memakan saudara sendiri!!!! Kalau emang loe gak mau sadar dan makan saudara loe sendiri, makan aja sepuasnya...tapi jangan ajakin orang lain dunk!!!!
Di situsnya, oknum tersebut memberikan alasan yang kelihatannya logis namun menyesatkan seperti ini :
Keberadaan website ini merupakan bentuk ekspresi perlawanan atas kehadiran undang-undang No.19/2002. Solusi alternatif mendapatkan program Full Version tanpa merogoh kocek, kecuali bayar pulsa internet doang.
Kita tidak bisa melarang Penguasa berbuat seperti itu. Itu hak mereka. Hak kita adalah mencari alternatif sumber di luar sana. Bagi mereka yg berduit mungkin itu bukan masalah. Masalah besar kudu beli progie aseli yang lumayan nguras gaji ...... (linx-lunx)
Jika tidak kuat membayar ya sudah kita cari software yang lisensinya free. Mungkin secara kualitas tidak sebanding, namun pasti sudah mencukupi kebutuhan. Please dunk kita menghargai karya saudara kita sendiri, Kalau kita memberikan apresiasi yang bagus kepada pengembang lokal, niscaya mereka akan lebih semangat lagi untuk mengembangkan karya-karya lebih bagus lagi. Tentunya akan semakin membuat kualitas SDM kita naik. Tapi kalau mau coba bikin program sesuatu saja, sudah dibajak..ya sudah.....mereka akan menjadi lamban kurang semangat. Jadi, kita sendirilah penyebab dari lambannya kemajuan bangsa ini.
Selain itu, karena situs ini di host di hosting impian yang memang mengharuskan bebas dari berbagai konten ilegal, maka saya harus tetap menjaganya jangan sampai saya sendiri dan orang lain memasukkan konten terlarang disini seperti sharing file ilegal (MP3, softaware dlsb), konten pornografi dan sebagainya.
Kasus lain?
Ada juga komentator lain yang sudah terlanjur ku approve karena kurang teliti dan memang tidak memberikan link download, pikirku tidak masalah. Ehhh beberapa hari kemudian ada inbound link dari blogger tersebut yang mencomot semua isi dari artikelku tersebut mentah-mentah. Saya sih gak masalah mereka mau mengcopy konten dari blog ini, jelek-jelek gini ada beberapa orang yang mengcopy artikel di blogku ini ke situs mereka (blog/portal). Apalagi, komentator tersebut juga memberikan trackback ke blogku. Cuman masalahnya, dibawah artikelku tersebut, ditambahi informasi harga dari software tersebut yang harganya tidak sesuai dengan harga di pasaran. Sangat murah dibanding harga normal, dia memberi harga Rp. 100.000 padahal harga normalnya adalah Rp. 880.000.Perbedaan harga yang cukup jauh bisa ditebak bahwa program yang dijual tersebut bukan produk legal.
Masih ada lagi?
Saya juga menulis artikel berjudul "Kehadiran First Media dengan Breakthrough Tarif Internet Murah Cepat". Komentar yang ada pun cukup beragam, tapi lagi-lagi ada komentator yang membuat saya agak risih lagi. Dikomentar tersebut, dia menulis mengenai akses internet gratis dari Fren dengan membayar Rp. 150.000, kemudian memberikan link cara-caranya. Komentar diblogku sih masih biasa, kemudian membuka link ke blog yang dimaksud. Hahhh....hanya cara-cara untuk akses internet gratis dari Fren yang sebenarnya juga banyak yang sudah tahu, tapi dia memungut bayaran 150.000 dengan alasan untuk membeli IP di salah satu negara yang akses internetnya gratis.
Katanya sih, dia meminjam koneksi dari Fren untuk mengunakan IP ke luar negeri yang gratis akses internetnya sehingga yang menggunakan cara tersebut jadi gratis. Meminjam??? Memangnya loe loe pada udah minta ijin ke Fren? Kalau memang sudah minta ijin ke Fren dan mereka mengijinkan sih no problemo. Tapi saya sangat yakin kalau ini tidak minta ijin. Menggunakan atau memanfaatkan barang orang lain tanpa ijin disebut........
Lagi-lagi siapa yang dirugikan? Tentu bangsa sendiri yang dalam kasus ini adalah Mobile-8. Logika saya sih, untuk koneksi dalam negeri saja membutuhkan biaya, apalagi menggunakan koneksi dari negara lain, tentu ada biayanya juga. Berapa banyak kerugian dari operator tersebut dengan adanya pencurian ini. Tentunya pemegang saham yang kebanyakan juga bangsa sendiri akan memperoleh dampaknya.
Finally, semoga kita menjadi lebih menghargai karya bangsa sendiri, akan lebih baik lagi kalau kita andil di dalamnya sehingga semakin banyak orang-orang Indonesia yang mengharumkan bangsa. Maaf juga jika tulisan saya terlihat agak emosi...karena saya cinta Indonesia, dan sangat ingin melihat negara ini menjadi negara maju terutama di dukung oleh teknologi informasi. Paling tidak adalah sejajar dengan negara lain, sehingga negara tetangga (you know lah) tidak terus menerus melecehkan kita sebagai negara berdaulat dengan berbagai kekayaan kita yang diakui sebagai kekayaan mereka. Kita tidak lagi mengekspor buruh tenaga kasar, pembantu, tetapi mengekspor tenaga-tenaga ahli. Kalau perlu, kita yang mengimpor buruh tenaga kasar ataupun pembantu dari negara lain!
ps: peringatan kepada pihak yang akan kumaksud, jangan coba-coba untuk kirim komentar lagi berisi hal serupa (atau mengambil artikel dari blog ini dengan tujuan untuk mencari keuntungan sendiri yang merugikan pihak lain). Karena saya akan melaporkan Anda kepada pihak yang berwajib atau kepada pihak yang merasa dirugikan dengan hal tersebut! Harap Maklum.
COMMENTS