Jakarta untuk Semua Slogan ini pasti terasa tidak asing lagi di telinga kita. Karena ini adalah slogan Fauzi Bowo aka Foke, Gubernur Jakarta...
Jakarta untuk Semua
Slogan ini pasti terasa tidak asing lagi di telinga kita. Karena ini adalah slogan Fauzi Bowo aka Foke, Gubernur Jakarta, pada saat kampanye pilkadal yang lalu. Slogan pembawa hoky ini didukung oleh puluhan partai besar-kecil untuk memenangkannya. Sekarang sudah beberapa bulan Bang Foke memimpin Jakarta, dan hasilnya sudah mulai dirasakan. Saya pun akhirnya tersadar atau baru 'ngeh' bahwa dia telah mulai menepati slogan kampanyenya.
Jakarta untuk semua. Semua harus merasakan hal yang sama. Besar-kecil, tua-muda, miskin-kaya, semua bisa tinggal di Jakarta dan merasakan berbagai hal di sini. Contoh yang paling menonjol adalah Banjir. Ya, banjir ini dirasakan oleh semua kalangan, mulai dari rakyat jelata yang tinggal di tempat kumuh sampai Presiden SBY pun merasakan hal yang serupa. Setiap orang tidak peduli apakah dia orang yang tinggal di Jakarta atau yang sekedar ingin berkunjung ke Jakarta bisa merasakan banjir. Saya juga warga pendatang yang tidak punya hak pilih di Jakarta, karenanya saya juga ikut merasakannya. Konsekuensi dari slogan Jakarta semua adalah semua harus merasakan banjir!

Abang berkumis sedang berenang di "pantai" monas, gambarnya mas wahyu aditya comot tanpa ijin dari KDRI.
Slogan "Ayo Benahi Jakarta" sudah tidak berlaku lagi. Disamping cagubnya tidak terpilih, indikasi untuk membenahi Jakarta juga tidak terlihat hingga saat ini. Yaa..mana mungkin mau menjalankan slogan Calon Gubernur yang dulu pernah saingan. Jakarta memang tidak perlu dibenahi. Seperti kata bijak "Biarlah semua berjalan apa adanya, seperti banjir yang mengalir".
Saya malah mengusulkan banjir Jakarta ini dan juga banjir-banjir di daerah lain di Indonesia masuk ke dalam agenda wisata Visit Indonesia 2008. Terutama Jakarta, banjir ini bisa benar-benar menjadi agenda wisata yang sangat unik dan pengalaman yang mengesankan dari para turis. Bayangkan, jalan-jalan di Jakarta disulap menjadi sungai dalam waktu sekejap. Para turis bisa menikmati jalan protokol Sudirman- Thamrin dengan naik perahu!
Prestasi berikutnya dari bang Foke, yang juga efek tidak sengaja dari banjir adalah bubrahnya transportasi udara di Jakarta. Ratusan penerbangan yang menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten terpaksa dibatalkan dan kembali. Begitu juga dengan yang akan tinggal landas tidak jadi berangkat. Operasional Bandara Soekarno-Hatta yang berada di luar Jakarta dipindahke Bandara Halim Perdana Kusuma yang masih berada di Jakarta.
Akses menuju bandara juga terpotong oleh banjir yang menggenang di jalan tol. Para penumpang yang sudah terlanjur sampai di bandara cengkareng seperti terisolasi karena tidak bisa keluar. Diantara yang saya ketahui adalah Onno W. Purbo. Pakar internet ini mengirim email ke milis menulis bahwa sedang terjebak di bandara sepulang dari Timor Leste. Wazeen juga SMS ke saya bilang tidak bisa hadir ke acara dagdigdug-nya Paman Tyo di Taman Menteng karena terjebak banjir (saya juga tidak datang lo :D). Selain itu, tentu sangat banyak yang terlantar di sana. Jakarta untuk semua, transportasi udarapun juga harus merasakan kemacetan. Dengan pindahnya bandara komersil ke Halim Perdanakusuma, turispun akan lebih cepat menuju ke Jakarta, untuk menikmati naik perahu di "sungai" Sudirman-Thamrin dan juga "sungai-sungai" sulapan yang lain. Jadi, sering-seringlah banjir, ya kan Bang Foke?
Prestasi berikutnya adalah kemacetan transportasi darat. "Macet adalah Jakarta, kalau tidak macet berarti bukan Jakarta," ujar seseorang berwajah Chinese ketika sedang bersama naik angkot. Jadi, seharusnya macet ini tidak perlu dicari jalan keluarnya biar lancar. Akan sulit dan membutuhkan biaya sangat besar, itupun belum tentu berhasil.
Lagi-lagi saya mengusulkan agar ini juga menjadi salah satu trade mark Jakarta. Hanya saja saya masih belum ada ide bagaimana membuatnya tampil menarik. Sampeyan punya ide?
Menampilkan jalan yang berubah jadi sungai sehingga bisa jadi wisata air dengan naik perahu dan kemacetan sebagai simbol kota modern nan sibuk tentu akan sangat menarik dan unik. Tiada duanya di dunia.
Lebih menarik daripada memasang baliho ukuran besar di depan BHI dengan menampilkan wajah-wajah petinggi negara seperti SBY, JK, Aburizal Bakrie, Jero Wacik dan Fauzi Bowo. Saya kira, turis datang ke Indonesia tidak akan menemui mereka kok, mungkin malah tidak kenal. Jadi memasang wajah mereka sangat useless.
Ups, saya lupa satu hal. "Narsis itu wajib hukumnya!" Bukan hanya bagi para blogger, tapi juga bagi pejabat tinggi negara. Jadi, wajah-wajah mereka di pasang dalam ukuran sangat besar di BHI itu niatnya bukan untuk mengajak turis datang ke Indonesia, tapi untuk memenuhi hasrat kenarsisannya.
Apakah mereka ketularan blogger? Saya ndak tahu.
Khusus kepada Bang Foke, SELAMAT!!! Anda telah mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilan pada slogan Anda "Jakarta untuk Semua". Pada prestasi perdana ini, Anda langsung mencetak HETRIK alias PERTAMAX! KEDUAXX!!, KETIGAXXX!!!. Ditunggu prestasi selanjutnya. Prestasi ini perlu Anda rayakan dengan MAKAN-MAKAN!!!!
Slogan ini pasti terasa tidak asing lagi di telinga kita. Karena ini adalah slogan Fauzi Bowo aka Foke, Gubernur Jakarta, pada saat kampanye pilkadal yang lalu. Slogan pembawa hoky ini didukung oleh puluhan partai besar-kecil untuk memenangkannya. Sekarang sudah beberapa bulan Bang Foke memimpin Jakarta, dan hasilnya sudah mulai dirasakan. Saya pun akhirnya tersadar atau baru 'ngeh' bahwa dia telah mulai menepati slogan kampanyenya.
Jakarta untuk semua. Semua harus merasakan hal yang sama. Besar-kecil, tua-muda, miskin-kaya, semua bisa tinggal di Jakarta dan merasakan berbagai hal di sini. Contoh yang paling menonjol adalah Banjir. Ya, banjir ini dirasakan oleh semua kalangan, mulai dari rakyat jelata yang tinggal di tempat kumuh sampai Presiden SBY pun merasakan hal yang serupa. Setiap orang tidak peduli apakah dia orang yang tinggal di Jakarta atau yang sekedar ingin berkunjung ke Jakarta bisa merasakan banjir. Saya juga warga pendatang yang tidak punya hak pilih di Jakarta, karenanya saya juga ikut merasakannya. Konsekuensi dari slogan Jakarta semua adalah semua harus merasakan banjir!
Abang berkumis sedang berenang di "pantai" monas, gambarnya mas wahyu aditya comot tanpa ijin dari KDRI.
Slogan "Ayo Benahi Jakarta" sudah tidak berlaku lagi. Disamping cagubnya tidak terpilih, indikasi untuk membenahi Jakarta juga tidak terlihat hingga saat ini. Yaa..mana mungkin mau menjalankan slogan Calon Gubernur yang dulu pernah saingan. Jakarta memang tidak perlu dibenahi. Seperti kata bijak "Biarlah semua berjalan apa adanya, seperti banjir yang mengalir".
Saya malah mengusulkan banjir Jakarta ini dan juga banjir-banjir di daerah lain di Indonesia masuk ke dalam agenda wisata Visit Indonesia 2008. Terutama Jakarta, banjir ini bisa benar-benar menjadi agenda wisata yang sangat unik dan pengalaman yang mengesankan dari para turis. Bayangkan, jalan-jalan di Jakarta disulap menjadi sungai dalam waktu sekejap. Para turis bisa menikmati jalan protokol Sudirman- Thamrin dengan naik perahu!
Prestasi berikutnya dari bang Foke, yang juga efek tidak sengaja dari banjir adalah bubrahnya transportasi udara di Jakarta. Ratusan penerbangan yang menuju Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten terpaksa dibatalkan dan kembali. Begitu juga dengan yang akan tinggal landas tidak jadi berangkat. Operasional Bandara Soekarno-Hatta yang berada di luar Jakarta dipindahke Bandara Halim Perdana Kusuma yang masih berada di Jakarta.
Akses menuju bandara juga terpotong oleh banjir yang menggenang di jalan tol. Para penumpang yang sudah terlanjur sampai di bandara cengkareng seperti terisolasi karena tidak bisa keluar. Diantara yang saya ketahui adalah Onno W. Purbo. Pakar internet ini mengirim email ke milis menulis bahwa sedang terjebak di bandara sepulang dari Timor Leste. Wazeen juga SMS ke saya bilang tidak bisa hadir ke acara dagdigdug-nya Paman Tyo di Taman Menteng karena terjebak banjir (saya juga tidak datang lo :D). Selain itu, tentu sangat banyak yang terlantar di sana. Jakarta untuk semua, transportasi udarapun juga harus merasakan kemacetan. Dengan pindahnya bandara komersil ke Halim Perdanakusuma, turispun akan lebih cepat menuju ke Jakarta, untuk menikmati naik perahu di "sungai" Sudirman-Thamrin dan juga "sungai-sungai" sulapan yang lain. Jadi, sering-seringlah banjir, ya kan Bang Foke?
Prestasi berikutnya adalah kemacetan transportasi darat. "Macet adalah Jakarta, kalau tidak macet berarti bukan Jakarta," ujar seseorang berwajah Chinese ketika sedang bersama naik angkot. Jadi, seharusnya macet ini tidak perlu dicari jalan keluarnya biar lancar. Akan sulit dan membutuhkan biaya sangat besar, itupun belum tentu berhasil.
Lagi-lagi saya mengusulkan agar ini juga menjadi salah satu trade mark Jakarta. Hanya saja saya masih belum ada ide bagaimana membuatnya tampil menarik. Sampeyan punya ide?
Menampilkan jalan yang berubah jadi sungai sehingga bisa jadi wisata air dengan naik perahu dan kemacetan sebagai simbol kota modern nan sibuk tentu akan sangat menarik dan unik. Tiada duanya di dunia.
Lebih menarik daripada memasang baliho ukuran besar di depan BHI dengan menampilkan wajah-wajah petinggi negara seperti SBY, JK, Aburizal Bakrie, Jero Wacik dan Fauzi Bowo. Saya kira, turis datang ke Indonesia tidak akan menemui mereka kok, mungkin malah tidak kenal. Jadi memasang wajah mereka sangat useless.
Ups, saya lupa satu hal. "Narsis itu wajib hukumnya!" Bukan hanya bagi para blogger, tapi juga bagi pejabat tinggi negara. Jadi, wajah-wajah mereka di pasang dalam ukuran sangat besar di BHI itu niatnya bukan untuk mengajak turis datang ke Indonesia, tapi untuk memenuhi hasrat kenarsisannya.
Apakah mereka ketularan blogger? Saya ndak tahu.
Khusus kepada Bang Foke, SELAMAT!!! Anda telah mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilan pada slogan Anda "Jakarta untuk Semua". Pada prestasi perdana ini, Anda langsung mencetak HETRIK alias PERTAMAX! KEDUAXX!!, KETIGAXXX!!!. Ditunggu prestasi selanjutnya. Prestasi ini perlu Anda rayakan dengan MAKAN-MAKAN!!!!
COMMENTS