Di berbagai media massa di Indonesia, sebutan blogger menjadi kontroversial. Berbagai stigma negatif disematkan pada komunitas maya yang suk...
Di berbagai media massa di Indonesia, sebutan blogger menjadi kontroversial. Berbagai stigma negatif disematkan pada komunitas maya yang suka menulis ini. Ada Blogger Negatif-Positif lah, ada blogger = hacker, ada blogger itu tukang tipu dan sebagainya. Dan ternyata, sebutan-sebutan miring tersebut menuju pada seorang tokoh. Siapa lagi kalau bukan dia?
Akhirnya, salah seorang blogger bernama Riyogarta memiliki inisiatif mempertemukan blogger dengan tokoh tersebut, untuk mengklarifikasi benarkah yang diucapkannya selama ini? Undangan blogger kepada pakar (pandai berkelakar) tersebut disambut baik dan setelah melalui proses cukup berbelit-belit karena jadwal yang berubah-ubah, akhirnya hari ini waktu yang ditunggu-tunggu itu telah tiba. Bertempat di salah satu kampus di bilangan Ciledug, dialog itupun terjadilah.
Karena saya merupakan “anak buah” Riyogarta di Ruang Kopi, sudah sebaiknya saya ikut mensukseskan acara tersebut. Berbeda dengan hari biasa, maka pagi-pagi saya harus berangkat ke TKP yang letaknya cukup jauh dari gubug saya. Dari Gajahmada berangkat naik busway dengan harap-harap cemas akan terlambat sampai TKP karena tempat yang cukup jauh dan menurut cerita dari rekan, jalan menuju tempat tersebut sering macet.
Di tengah perjalanan, saya ditelepon oleh Sarie Okezone yang mengajak berangka bareng. AKhirnya saya turun di Halte Karet menunggu dia yang naik motor. Naik motor di depan tanpa persiapan membawa jaket ternyata memberikan efek “hitam dan panas” kepada saya. Bagaimana tidak, suhu Jakarta cukup panas, plus macet plus asap bus-bus menyerang tanpa ampun.
Untunglah, sampai disana acara baru saja dimulai, namun tempat sudah penuh dan hampir saja tidak punya tempat duduk kalau Caplang tidak memberitahu ada tempat duduk kosong di bagian depan.

Dialog antara Riyogarta dan Roy Suryo pun digelar dengan moderator Abimanyu. Bagi yang tidak bisa mengikuti acara tersebut tadi bisa mengikuti live streaming di Binus Access. Sebenarnya, RS sangat menginginkan kakak kelasnya, ndorokakung untuk menjadi moderator, namun beliau berhalangan hadir. Padahal ndorokakung menurutnya adalah salah satu blogger positif. Rasa respek RS terhadap blogger yang bekerja di salah satu koran terkemuka di Jakarta ini cukup terlihat. Selamat, ndoro!
Acara berlangsung cukup seru dan semua menuju ke arah Roy Suryo. Walaupun ada kalimat-kalimat yang cukup frontal dari Riyogarta dan juga beberapa penanya, namun RS tetap tenang dan mengembangkan tawa. Untuk urusan mental, Roy Suryo emang nggak ada matinya. Saya salut untuk urusan ini.
Ada hal menarik dari yang diucapkan oleh RS. Kurang lebih dia mengatakan bahwa ada semacam mispersepsi antara yang diucapkannya dengan yang ditulis oleh wartawan. Jadi kurang lebih menurutnya, RS bilang ini tapi yang ditulis wartawan di media adalah itu.
RS tidak menyangkal mengatakan seperti yang ditulis di media massa, namun dia sebelumnya juga mengatakan apresiasi ini itu mengenai blog. Wartawan telah memelintir ucapan Roy Suryo. Itulah dakwaan yang diucapkan RS yang ditujukan kepada wartawan.
RS pun tidak bermaksud menyalahkan apa yang ditulis wartawan karena menurut dia, wartawan itu menulis suatu “angle” yang eye catching agar menarik dibaca oleh banyak orang. Kurang lebih yang dimaksudkan begitu, karena saya masih malas untuk mendengarkan kembali rekaman di ponsel saya.
Jadi, dianggap wartawan itu menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dari RS sebagai nara sumber. Anehnya, RS malah membiarkan stigma tersebut di media massa yang menganggap bahwa itu adalah hak wartawan untuk menulis atau tidak bisa memaksa sesuai dengan keinginan. RS merasa bahwa dengan begitu, dia menjadi demokratis.
Berkali-kali Roy Suryo menyatakan bahwa perseteruan antara dirinya dengan blogger lebih merupakan akibat mispersepsi dari media dalam menafsirkan pernyatannya. Akan tetapi, pernyatan Roy dibantah oleh Riyogarta. Sebab, tidak mungkin kesalahan persepsi itu terjadi secara massal dan hampir dikutip oleh semua media.
Cukup aneh memang kalau menurutnya, wartawan itu telah memelintir ucapan RS yang tidak sesuai, tapi kok semua media menuliskan hal yang serupa. Kesalahan penulisan memang sangat mungkin terjadi, tapi apakah logis jika itu terjadi secara masal? Mengenai pelintiran atau mispersepsi secara masal ini, seingat saya RS tidak menjawab dan hanya tertawa mengembang.
Hal aneh lagi kalau dia tidak memiliki itikad baik untuk melakukan klarifikasi jika dianggap tulisan wartawan di media massa tidak sesuai dengan yang dimaksud. Apalagi masalah ini menjadi semacam keresahan bagi kalangan tertentu. Kalangan itu tentu adalah blogger sendiri yang merasa dicap negatif dan juga non blogger yang akhirnya takut untuk ngeblog karena sudah ada pandangan negatif.
Menurut saya, kalau memang apa yang ditulis oleh wartawan itu tidak sesuai dengan yang dimaksud olehnya, maka RS telah Gagal! Gagal sebagai seorang ahli komunikasi. Kalau memang itu sesuai dengan yang diucapkan, tapi kita tidak tahu siapa hati orang. Karena mungkin saja apa yang dia bicarakan mengenai apresiasi kepada blogger, agar blogger menjadi positif dan sebagainya hanya sekadar “cari aman”.
Dalam acara tersebut, Riyogarta sempat memberikan semacam kejutan kepada RS berupa domain blog gratis beralamat di http://roy.suryo.info. Hanya saja terlihat RS tidak ada keinginan untuk ngeblog karena menurutnya, ini adalah pilihan! Dia memilih untuk tidak ngeblog dan memiliki pilihan sesuai caranya sendiri yang dianggapnya sesuai. Dia juga sempat mengklaim bahwa domain roysuryo.info itu miliknya, tapi ketika saya cek kesana, ternyata domain tersebut sedang diparkir. Kesimpulannya?
Di acara tersebut, sempat juga diperlihatkan postingan Ndorokakung yang menampilkan button Jangan Kutip Roy Suryo. Melihat button tersebut, RS cukup lapang dada jika ada yang tidak mau mengutip dirinya. Memang, mengutip ucapan Roy Suryo itu sangat penuh resiko.
Resikonya :
- Blogger (dan hacker) semakin membenci RS
- RS ganti menyalahkan wartawan
Yang paling aman memang, tidak usah mengutip tulisan RS lagi. Baik itu wartawan dan juga blogger. Roy Suryo juga tidak lagi menjadi kontroversial, blogger juga semakin nyaman menulis, wartawan juga lebih baik mengutip kepada pakar yang memiliki kapasitas ilmiah memadai sehingga bisa dipertanggung jawabkan, dan tentunya tidak disalah-salahkan lagi. Peace!!!
COMMENTS