Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2008. Semua orang tentu sudah tahu bahwa sekarang adalah hari paling bersejarah bagi seluruh bangsa Indon...

Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2008. Semua orang tentu sudah tahu bahwa sekarang adalah hari paling bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia. 63 tahun sudah kita menapaki kemerdekaan, terlepas dari penjajahan bangsa asing dalam bentuk fisik. Tapi, apakah kita benar-benar sudah merdeka? Ini juga pertanyaan yang sudah usang. Pertanyaan yang berulang-ulang terletup saat momen 17-an. Biarlah kenyataan yang menjawabnya. Kenyataannya ya seperti yang kita rasakan saat ini.
Indonesia seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Sisi yang satu, banyak orang Indonesia yang kaya raya. Pelesiran ke luar negeri adalah rutinitas, mobil lima sudah lumrah, rumah tiga sudah biasa. Mall-mall mewah pun mulai menjamur di Jakarta dan kota-kota yang lain, meskipun harganya mahal tapi ramai juga. Televisi selalu menyajikan acara yang serba glamour.
Sisi yang lain, jauh lebih banyak lagi orang Indonesia yang hidupnya serba kesusahan. Mau makan saja susah, menyekolahkan anaknya terasa berat, kenaikan harga BBM dan sembako terasa mencekik leher.
Secara teori, kita memiliki wakil rakyat yang berkantor di DPR. Sayangnya, wakil rakyat tersebut hampir semuanya mewakili sisi yang rakyat kaya tadi. Setiap aspirasi dari orang kaya akan sangat cepat direspon, bahkan gaya hidup wakil rakyat tersebut juga sudah mewakili orang kaya. Pasti akan menjadi bahan tertawaan kalau ada wakil rakyat memakai baju serba lusuh apalagi compang-camping.
Jadi, kalau Anda merasa orang kaya dan kemungkinan aspirasi Anda akan bisa terpenuhi oleh wakil rakyat, silahkan mencoblos pada Pemilu nanti. Tapi, kalau kehidupan Anda masih tidak menentu, hidup serba kesusahan dan berfikir kalau aspirasi itu kemungkinan besar tidak terpenuhi, tidak perlu takut dihukum jika Anda golput. Apalagi melihat kenyataan sekarang, banyak wakil rakyat yang bermasalah. Kemungkinan untuk pemilu mendatang orangnya ya itu lagi itu lagi.
Nah, akan lebih baik jika kita tidak perlu menggantungkan nasib kepada Pemerintah atau wakil rakyat. Karena memang kita hanya boleh menggantungkan segala urusan kepada Allah. Terlalu banyak menuntut kepada pemerintah dengan melakukan demo atau apapun juga akan berbuah kesia-siaan. Biasanya tidak akan berpengaruh pada kebijakan.
Memang negara sedang carut marut. Suasananya persis ketika sore hari, jam pulang kerja di Jakarta. Tapi bukan berarti kita putus harapan. Selalu ada secercah cahaya yang membuat kita bersemangat bahwa hari esok akan lebih baik dari sekarang. Hal itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri.
Kita perlu berbenah diri dan juga ikut membenahi sesama. Kita bisa membantu dari hal-hal yang ringan tapi bermanfaat. Tidak usah malu meniru Jepang yang terbukti menjadi negara maju, mereka memiliki hobi membaca tingkat tinggi.
Cobalah hobi itu kita tularkan kepada teman-teman kita, kepada orang-orang di sekitar kita. Tapi, sayang sekali bahwa banyak sekali saudara kita yang hidupnya tidak seenak kita. Buku adalah prioritas paling belakang. Nah, tidak ada salahnya kita yang merasa kelebihan harta atau buku menyumbang kepada mereka. Jika ingin Anda memang memiliki jiwa sosial yang tinggi, ingin menularkan virus suka membaca kepada saudara yang lain, sekarang adalah waktu yang tepat. Kenapa? Karena saat ini ada rekan-rekan blogger BHI yang mengadakan program Gerakan Kumpul 1000 Buku.
Buku tersebut nantinya akan didistribusikan kepada tempat-tempat yang memang layak untuk memperoleh buku. Jogjakarta adalah salah satu tempat yang akan mendapat sumbangan buku dari gerakan ini. CahAndong telah menawarkan diri siap menerima amanah ini. Mungkin saja tempat di sekitar Anda cocok untuk mendapat sumbangan dan Anda bersama rekan-rekan sekitarnya siap mengorganisir. Cobalah kontak panitia gerakan tersebut.
Harapannya, akan semakin banyak orang Indonesia yang melek informasi, berwawasan luas, cerdas, mandiri, kreatif dan berakhlaq. Orang-orang ini nantinya yang akan dipercaya untuk membangun Indonesia ke depannya. Dari orang-orang ini akan muncul bibit-bibit baru politisi, ekonom, ulama, programmer, bisnismen dan sebagainya yang memiliki visi memajukan bangsa. Bukan bervisi merusak bangsa dengan korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, pencurian dan serangkaian kejahatan lainnya.
Semoga Indonesia bisa merdeka seutuhnya. Dirgahayu Republik Indonesia ke-63.
COMMENTS