Samsung, manufaktur elektronik asal Korea ini semakin bersinar pamornya. Di industri ponsel, vendor ini berada di urutan nomor dua setelah N...
Samsung, manufaktur elektronik asal Korea ini semakin bersinar pamornya. Di industri ponsel, vendor ini berada di urutan nomor dua setelah Nokia. Meninggalkan Motorola, Sony Ericsson dan LG di bawahnya. Samsung bisa dibilang perusahaan yang serba ada. Mereka menjual berbagai produk mulai dari home appliance, perangkat kantoran, digital imaging, perangkat komunikasi sampai entertainment. "Apa yang loe mau, gue ada." Begitulah kira-kira Samsung ini. Hebatnya, meskipun masuk ke berbagai lini produk, hampir semuanya tergolong eksis.
Seperti diketahui, awal tahun lalu salah satu rival beratnya yakni Apple meluncurkan perangkat tablet bernama iPad. Sambutan konsumen begitu besar dan produk ini terbilang laku keras. Pada akhirnya, ini mendorong vendor lain untuk menghadirkan perangkat serupa agar bisa mencicipi kue di pasar tablet. Tidak terkecuali Samsung. Dan bagi mereka, tidak sulit untuk menghadirkan perangkat tablet ini. Karena mereka bisa dibilang sudah punya semuanya.
Maka, Samsung pun menyiapkan perangkat yang bisa menandingi iPad sekaligus mempelajari apa saja kekurangan yang ada di tablet buatan Apple tersebut sambil melihat tren yang sedang berkembang. Tentu saja tidak sama persis dan harus memiliki karakter sendiri. Hingga, lahirlah Samsung Galaxy Tab.
Tablet ini memilih menggunakan layar berukuran 7inchi, lebih kecil dibanding iPad yang 9 inchi. Bobotnya pun ringan hanya 380g, bandingkan dengan iPad yang bobotnya 730g. Hal ini karena Samsung beranggapan biar Galaxy Tab lebih mudah dibawa. Mereka pun membuat gaya hidup baru yakni membawa tablet tidak ditenteng, tetapi dimasukkan ke dalam saku celana pinggir atau belakang. Meskipun berupa tablet yang bisa dua atau tiga kali lebih besar dari ponsel, tetapi ketika dicoba ternyata benar bisa masuk khususnya untuk celana lelaki dewasa. Meskipun memang agak menonjol. Dan bisa jadi ini untuk ajang pamer ketika jalan ke mall, asalkan hati-hati aja jangan sampai ada yang mencopet :D.
Layar berukuran 7 inchi terbilang cukup nyaman untuk membaca buku, browsing web, menonton film dan berbagai kegiatan lainnya. Sayangnya jenis layar hanya TFT, padahal Samsung sudah menggunakan teknologi display tercanggih yaitu Super AMOLED seperti yang ada di Galaxy S. Mereka berkilah, kalau menggunakan Super AMOLED maka harga jualnya bisa lebih mahal lagi.
Untuk platform, mereka memilih menggunakan Android yang saat ini memang sedang naik daun. Asyiknya, versi yang digunakan sudah yang terbaru yakni Android 2.2. Sepertinya, Galaxy Tab merupakan tablet pertama yang menggunakan Android Froyo. Beberapa hari sebelumnya, Dell juga meluncurkan tablet 5 inchi yakni Dell Streak, sayangnya masih menggunakan Android 1.6 (Donut). Ini membuat Galaxy Tab selangkah lebih maju dibanding lainnya.
Satu hal yang mungkin perlu diperhatikan dan menjadi sedikit hambatan adalah Android Froyo tidak direkomendasikan untuk dipergunakan pada perangkat dengan layar ekstra lebar seperti Galaxy Tab. Hal ini diakui oleh Hugo Barra, director of products for mobile at Google. Resolusi terkecil yang didukung adalah 240x320 dan terbesar 480x800 pixel. Padahal Galaxy Tab resolusinya 1024 x 600 pixel. Akibatnya jelas, banyak aplikasi yang tidak tampil dengan semestinya atau kurang sempurna. Beberapa aplikasi yang saya coba memang memperlihatkan aplikasi yang tampil tidak memenuhi layar. Untungnya, permasalahan tersebut akan teratasi dengan versi mendatang Android 3.0. Hanya saja, kapan versi ini akan dirilis masih belum tahu persisnya.
Di Indonesia, tablet ini resmi diluncurkan pada 19 Oktober 2010 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta. Samsung rupanya telah menyiapkan sedemikian rupa sehingga Galaxy Tab ini akan lebih berguna di tangan konsumen. Untuk itu, mereka telah menghadirkan beragam konten lokal yang cukup menarik.
Samsung bekerjasama dengan MRA Group dan Kompas - Gramedia, dua perusahaan penerbitan yang terpandang di Indonesia. Mereka menyediakan konten berupa majalah dan koran yang bisa dibaca dengan mudah di Galaxy Tab. Konsumen bisa berlangganan majalah atau koran digital dengan harga yang tentu saja lebih murah dibanding versi cetak. Diantara seperti Kompas, Kontan, Cosmopolitan, Autocar, Esquire, FHM, Harper Bazaar, Nova, Intisari dan sebagainya. Kelompok Kompas Gramedia sendiri akan menyediakan enam surat kabar, 25 majalah, dan 500 buku yang dapat diunduh melalui perangkat digital tersebut.
Sistem pembeliannya adalah dengan poin. Konsumen bisa melakukan pengisian top up poin melalui ATM yang kemudian diubah nilainya dalam bentuk poin. Setiap poin senilai Rp 1.000. Nah, poin inilah yang bisa digunakan untuk membeli konten tersebut baik koran, majalah maupun buku.
Semua konten tersebut bisa diakses melalui fasilitas e-readers di Galaxy Tab. Hanya saja, jangan berharap untuk mendapatkan pengalaman membaca majalah seperti di iPad yang berupa aplikasi interaktif. Karena versi digital dari majalah dan koran di Galaxy Tab ini seperti dituturkan oleh Product Marketing Samsung Apps PT SEID, Pambudi, sebenarnya berupa file PDF. Jika Anda pernah membaca e-book PDF di laptop, kurang lebih seperti itu tampilannya. Sementara untuk buku, formatnya adalah epub.
Kelebihan lain yang coba diangkat adalah dalam hal telephony. Tidak seperti iPad yang hanya bisa digunakan untuk data saja, tetapi Galaxy Tab bisa juga untuk menelepon. Dibutuhkan headset Bluetooth untuk melakukan panggilan telepon. Meskipun saya tetap beranggapan, siapa yang butuh menelepon dari tablet sebesar ini? Orang membeli tablet tidak untuk menelepon.
Tetapi jika yang dimaksud adalah untuk video chat, Galaxy Tab bisa jadi pilihan karena memungkinkan untuk hal ini. Karena terdapat kamera utama dengan sensor 3MP dan kamera 1,3MP di bagian depan yang bisa berfungsi sebagai webcam atau video telephony. Keberadaan kamera ini juga berguna untuk menikmati layanan augmented reality seperti aplikasi Layar dan lainnya.
Dalam hal konektivitas juga cukup lengkap. Galaxy Tab mendukung akses 3,5G, 802.11n Wi-Fi dan Bluetooth 3.0. Karena sudah menggunakan Android 2.2, Galaxy Tab juga bisa digunakan sebagai wifi router yang memungkinkan perangkat lain untuk mengakses internet dengan hot spot dari tablet.
Sementara itu untuk jeroannya, tablet ini diperkuat dengan prosesor Cortex A8 1.0GHz membuatnya bisa memberikan kinerja tinggi. Bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus dalam waktu bersamaan (multitasking).
Secara umum, dari beberapa kali mencoba, sebenarnya Galaxy Tab ini tidak beda jauh dengan Galaxy S kecuali dari sisi layarnya yang lebih besar saja. User experiencenya hampir sama. Mungkin karena antarmukanya yang hampir sama dengan Galaxy S. Bahkan harganya juga tidak beda jauh. Tablet ini dijual seharga 6,9 juta. Kebanyakan orang yang kutemui berkomentar kalau harganya tidak beda jauh dengan iPad. Dengan harga segitu, mereka lebih memilih untuk membeli iPad sekalian. Kalau Anda?
Seperti diketahui, awal tahun lalu salah satu rival beratnya yakni Apple meluncurkan perangkat tablet bernama iPad. Sambutan konsumen begitu besar dan produk ini terbilang laku keras. Pada akhirnya, ini mendorong vendor lain untuk menghadirkan perangkat serupa agar bisa mencicipi kue di pasar tablet. Tidak terkecuali Samsung. Dan bagi mereka, tidak sulit untuk menghadirkan perangkat tablet ini. Karena mereka bisa dibilang sudah punya semuanya.
Maka, Samsung pun menyiapkan perangkat yang bisa menandingi iPad sekaligus mempelajari apa saja kekurangan yang ada di tablet buatan Apple tersebut sambil melihat tren yang sedang berkembang. Tentu saja tidak sama persis dan harus memiliki karakter sendiri. Hingga, lahirlah Samsung Galaxy Tab.
Tablet ini memilih menggunakan layar berukuran 7inchi, lebih kecil dibanding iPad yang 9 inchi. Bobotnya pun ringan hanya 380g, bandingkan dengan iPad yang bobotnya 730g. Hal ini karena Samsung beranggapan biar Galaxy Tab lebih mudah dibawa. Mereka pun membuat gaya hidup baru yakni membawa tablet tidak ditenteng, tetapi dimasukkan ke dalam saku celana pinggir atau belakang. Meskipun berupa tablet yang bisa dua atau tiga kali lebih besar dari ponsel, tetapi ketika dicoba ternyata benar bisa masuk khususnya untuk celana lelaki dewasa. Meskipun memang agak menonjol. Dan bisa jadi ini untuk ajang pamer ketika jalan ke mall, asalkan hati-hati aja jangan sampai ada yang mencopet :D.
Layar berukuran 7 inchi terbilang cukup nyaman untuk membaca buku, browsing web, menonton film dan berbagai kegiatan lainnya. Sayangnya jenis layar hanya TFT, padahal Samsung sudah menggunakan teknologi display tercanggih yaitu Super AMOLED seperti yang ada di Galaxy S. Mereka berkilah, kalau menggunakan Super AMOLED maka harga jualnya bisa lebih mahal lagi.
Untuk platform, mereka memilih menggunakan Android yang saat ini memang sedang naik daun. Asyiknya, versi yang digunakan sudah yang terbaru yakni Android 2.2. Sepertinya, Galaxy Tab merupakan tablet pertama yang menggunakan Android Froyo. Beberapa hari sebelumnya, Dell juga meluncurkan tablet 5 inchi yakni Dell Streak, sayangnya masih menggunakan Android 1.6 (Donut). Ini membuat Galaxy Tab selangkah lebih maju dibanding lainnya.
Satu hal yang mungkin perlu diperhatikan dan menjadi sedikit hambatan adalah Android Froyo tidak direkomendasikan untuk dipergunakan pada perangkat dengan layar ekstra lebar seperti Galaxy Tab. Hal ini diakui oleh Hugo Barra, director of products for mobile at Google. Resolusi terkecil yang didukung adalah 240x320 dan terbesar 480x800 pixel. Padahal Galaxy Tab resolusinya 1024 x 600 pixel. Akibatnya jelas, banyak aplikasi yang tidak tampil dengan semestinya atau kurang sempurna. Beberapa aplikasi yang saya coba memang memperlihatkan aplikasi yang tampil tidak memenuhi layar. Untungnya, permasalahan tersebut akan teratasi dengan versi mendatang Android 3.0. Hanya saja, kapan versi ini akan dirilis masih belum tahu persisnya.
Di Indonesia, tablet ini resmi diluncurkan pada 19 Oktober 2010 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta. Samsung rupanya telah menyiapkan sedemikian rupa sehingga Galaxy Tab ini akan lebih berguna di tangan konsumen. Untuk itu, mereka telah menghadirkan beragam konten lokal yang cukup menarik.
Samsung bekerjasama dengan MRA Group dan Kompas - Gramedia, dua perusahaan penerbitan yang terpandang di Indonesia. Mereka menyediakan konten berupa majalah dan koran yang bisa dibaca dengan mudah di Galaxy Tab. Konsumen bisa berlangganan majalah atau koran digital dengan harga yang tentu saja lebih murah dibanding versi cetak. Diantara seperti Kompas, Kontan, Cosmopolitan, Autocar, Esquire, FHM, Harper Bazaar, Nova, Intisari dan sebagainya. Kelompok Kompas Gramedia sendiri akan menyediakan enam surat kabar, 25 majalah, dan 500 buku yang dapat diunduh melalui perangkat digital tersebut.
Sistem pembeliannya adalah dengan poin. Konsumen bisa melakukan pengisian top up poin melalui ATM yang kemudian diubah nilainya dalam bentuk poin. Setiap poin senilai Rp 1.000. Nah, poin inilah yang bisa digunakan untuk membeli konten tersebut baik koran, majalah maupun buku.
Semua konten tersebut bisa diakses melalui fasilitas e-readers di Galaxy Tab. Hanya saja, jangan berharap untuk mendapatkan pengalaman membaca majalah seperti di iPad yang berupa aplikasi interaktif. Karena versi digital dari majalah dan koran di Galaxy Tab ini seperti dituturkan oleh Product Marketing Samsung Apps PT SEID, Pambudi, sebenarnya berupa file PDF. Jika Anda pernah membaca e-book PDF di laptop, kurang lebih seperti itu tampilannya. Sementara untuk buku, formatnya adalah epub.
Kelebihan lain yang coba diangkat adalah dalam hal telephony. Tidak seperti iPad yang hanya bisa digunakan untuk data saja, tetapi Galaxy Tab bisa juga untuk menelepon. Dibutuhkan headset Bluetooth untuk melakukan panggilan telepon. Meskipun saya tetap beranggapan, siapa yang butuh menelepon dari tablet sebesar ini? Orang membeli tablet tidak untuk menelepon.
Tetapi jika yang dimaksud adalah untuk video chat, Galaxy Tab bisa jadi pilihan karena memungkinkan untuk hal ini. Karena terdapat kamera utama dengan sensor 3MP dan kamera 1,3MP di bagian depan yang bisa berfungsi sebagai webcam atau video telephony. Keberadaan kamera ini juga berguna untuk menikmati layanan augmented reality seperti aplikasi Layar dan lainnya.
Dalam hal konektivitas juga cukup lengkap. Galaxy Tab mendukung akses 3,5G, 802.11n Wi-Fi dan Bluetooth 3.0. Karena sudah menggunakan Android 2.2, Galaxy Tab juga bisa digunakan sebagai wifi router yang memungkinkan perangkat lain untuk mengakses internet dengan hot spot dari tablet.
Sementara itu untuk jeroannya, tablet ini diperkuat dengan prosesor Cortex A8 1.0GHz membuatnya bisa memberikan kinerja tinggi. Bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus dalam waktu bersamaan (multitasking).
Secara umum, dari beberapa kali mencoba, sebenarnya Galaxy Tab ini tidak beda jauh dengan Galaxy S kecuali dari sisi layarnya yang lebih besar saja. User experiencenya hampir sama. Mungkin karena antarmukanya yang hampir sama dengan Galaxy S. Bahkan harganya juga tidak beda jauh. Tablet ini dijual seharga 6,9 juta. Kebanyakan orang yang kutemui berkomentar kalau harganya tidak beda jauh dengan iPad. Dengan harga segitu, mereka lebih memilih untuk membeli iPad sekalian. Kalau Anda?

COMMENTS