Seperti halnya mudik lebaran yang butuh bekal memadai, begitu juga mudik ke kampung akhirat. Mudik kemana pada lebaran tahun ini? Tentu ke k...
Seperti halnya mudik lebaran yang butuh bekal memadai, begitu juga mudik ke kampung akhirat.

Mudik kemana pada lebaran tahun ini? Tentu ke kampung halaman. Ada yang ke Jogja, Solo, Semarang, Surabaya, Lampung, Medan dan sebagainya. Saya sendiri pulang ke rumah orang tua di Ponorogo. Warga asli Jakarta dan sekitarnya yang tiap hari pulang ke kampungnya pada lebaran bisa menikmati hari istimewa. Bebas macet!
Tapi benarkah kampung halaman itu adalah tempat di mana kita dilahirkan atau rumah orang tua tinggal? Biasanya kita langsung menjawab "Ya". Tapi kalau ditelisik lebih lanjut, jawabannya tak hanya sampai di situ. Terima kasih kepada Adhyaksa Dault yang Rabu malam kemarin mengisi ceramah di Masjid Agung Al Azhar. Mantan Menpora ini mengingatkan kepada jama'ah yang I'tikaf di masjid bahwa sebenarnya kita memiliki kampung halaman hakiki, yaitu surga. Kok bisa?
Kalau ditarik ke belakang, maka kita akan menyadari. Orang tua kita mungkin berasal dari daerah yang disebutkan di atas. Pertanyaan berlanjut, dari mana asal orang tuanya bapak kita, orang tuanya kakek, orang tuanya buyut dan seterusnya. Mungkin kita hanya mampu menjawab sampai beberapa level nasab saja. Selebihnya hanya mengira-ngira atau tidak tahu sama sekali. Penganut teori Darwin mungkin akan menganggap bahwa dirinya adalah keturunan kera. Terserah jika mereka berfikir seperti itu. Tapi bagi orang yang beriman percaya sebagai keturunan dari Adam. Dialah manusia pertama yang hidup di bumi.
Nah, darimana asal Adam? Jawabannya jelas: surga. Adam yang dibuat dari tanah dengan bentuk sebaik-baiknya tinggal untuk beberapa waktu lamanya di surga bersama istrinya hingga kecerobohan yang membuatnya terusir dari surga. Tanpa melakukan kesalahan seperti yang dilakukanpun, Adam pasti akan turun ke dunia. Karena dia memang telah diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Kesalahan yang pernah dibuat hanya menegaskan bahwa dia itu manusia, yang tak luput dari kesalahan. Dua unsur yang ada di dalam diri manusia adalah baik dan buruk. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Kalau jahat, manusia bisa lebih buruk dari binatang. Sebaliknya, jika mulia bisa melebihi malaikat.
Selain Adam dan Hawa, ada golongan lain yang terusir dari surga yaitu iblis atau setan. Bedanya, setan divonis terusir dari surga dan akan tinggal selamanya di neraka. Sedangkan manusia memiliki dua peluang, yakni surga atau neraka. Jika bagus amalnya selama di dunia, niscaya akan kembali ke surga. Sebaliknya jika buruk perbuatannya, akan bersama iblis tinggal di neraka.
Tinggal kita mau pilih yang mana. Pulang ke kampung surga yang penuh keindahan atau sebaliknya. Setiap orang pada dasarnya mengharap untuk bisa kembali ke surga. Tetapi ada yang salah jalan atau terlena dengan kenikmatan sesaat selama di dunia, sehingga melupakan tujuan awalnya.
Seperti halnya ketika akan mudik yang butuh banyak bekal atau persiapan, begitu juga mudik ke kampung akhirat. Dan karena pulang ke akhirat abadi, tak mungkin bisa balik lagi ke dunia, maka bekalnya harus jauh lebih baik. Berbeda dengan mudik tahunan yang terencana keberangkatannya, kapan mudik ke akhirat benar-benar rahasia Allah yang kita tidak tahu waktunya. Bisa dalam waktu dekat atau masih lama. Sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup?
Semoga kita bisa senantiasa memperbanyak amal kebajikan. Memperbaiki hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan antar manusia (hablum minannas) dan dengan alam semesta. Karena kita hidup di dunia, ditugaskan untuk menjadi khalifah yang menjaga bumi dan seisinya.
Taqobbal Allahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda, puasa kami dan puasa Anda. Ja'alanallahu minal 'aidin walfaizin. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (fitri) dan orang2 yang menang (mendapatkan ridlo-Nya).
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.
Mudik kemana pada lebaran tahun ini? Tentu ke kampung halaman. Ada yang ke Jogja, Solo, Semarang, Surabaya, Lampung, Medan dan sebagainya. Saya sendiri pulang ke rumah orang tua di Ponorogo. Warga asli Jakarta dan sekitarnya yang tiap hari pulang ke kampungnya pada lebaran bisa menikmati hari istimewa. Bebas macet!
Tapi benarkah kampung halaman itu adalah tempat di mana kita dilahirkan atau rumah orang tua tinggal? Biasanya kita langsung menjawab "Ya". Tapi kalau ditelisik lebih lanjut, jawabannya tak hanya sampai di situ. Terima kasih kepada Adhyaksa Dault yang Rabu malam kemarin mengisi ceramah di Masjid Agung Al Azhar. Mantan Menpora ini mengingatkan kepada jama'ah yang I'tikaf di masjid bahwa sebenarnya kita memiliki kampung halaman hakiki, yaitu surga. Kok bisa?
Kalau ditarik ke belakang, maka kita akan menyadari. Orang tua kita mungkin berasal dari daerah yang disebutkan di atas. Pertanyaan berlanjut, dari mana asal orang tuanya bapak kita, orang tuanya kakek, orang tuanya buyut dan seterusnya. Mungkin kita hanya mampu menjawab sampai beberapa level nasab saja. Selebihnya hanya mengira-ngira atau tidak tahu sama sekali. Penganut teori Darwin mungkin akan menganggap bahwa dirinya adalah keturunan kera. Terserah jika mereka berfikir seperti itu. Tapi bagi orang yang beriman percaya sebagai keturunan dari Adam. Dialah manusia pertama yang hidup di bumi.
Nah, darimana asal Adam? Jawabannya jelas: surga. Adam yang dibuat dari tanah dengan bentuk sebaik-baiknya tinggal untuk beberapa waktu lamanya di surga bersama istrinya hingga kecerobohan yang membuatnya terusir dari surga. Tanpa melakukan kesalahan seperti yang dilakukanpun, Adam pasti akan turun ke dunia. Karena dia memang telah diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Kesalahan yang pernah dibuat hanya menegaskan bahwa dia itu manusia, yang tak luput dari kesalahan. Dua unsur yang ada di dalam diri manusia adalah baik dan buruk. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Kalau jahat, manusia bisa lebih buruk dari binatang. Sebaliknya, jika mulia bisa melebihi malaikat.
Selain Adam dan Hawa, ada golongan lain yang terusir dari surga yaitu iblis atau setan. Bedanya, setan divonis terusir dari surga dan akan tinggal selamanya di neraka. Sedangkan manusia memiliki dua peluang, yakni surga atau neraka. Jika bagus amalnya selama di dunia, niscaya akan kembali ke surga. Sebaliknya jika buruk perbuatannya, akan bersama iblis tinggal di neraka.
Tinggal kita mau pilih yang mana. Pulang ke kampung surga yang penuh keindahan atau sebaliknya. Setiap orang pada dasarnya mengharap untuk bisa kembali ke surga. Tetapi ada yang salah jalan atau terlena dengan kenikmatan sesaat selama di dunia, sehingga melupakan tujuan awalnya.
Seperti halnya ketika akan mudik yang butuh banyak bekal atau persiapan, begitu juga mudik ke kampung akhirat. Dan karena pulang ke akhirat abadi, tak mungkin bisa balik lagi ke dunia, maka bekalnya harus jauh lebih baik. Berbeda dengan mudik tahunan yang terencana keberangkatannya, kapan mudik ke akhirat benar-benar rahasia Allah yang kita tidak tahu waktunya. Bisa dalam waktu dekat atau masih lama. Sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup?
Semoga kita bisa senantiasa memperbanyak amal kebajikan. Memperbaiki hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan antar manusia (hablum minannas) dan dengan alam semesta. Karena kita hidup di dunia, ditugaskan untuk menjadi khalifah yang menjaga bumi dan seisinya.
Taqobbal Allahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda, puasa kami dan puasa Anda. Ja'alanallahu minal 'aidin walfaizin. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (fitri) dan orang2 yang menang (mendapatkan ridlo-Nya).
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.
COMMENTS