Jum’at pagi sebulanan yang lalu, jam setengah 6 saya terburu-buru berangkat dari rumah di Jagakarsa menuju ke Jatinegara untuk menjemput ist...
Jum’at pagi sebulanan yang lalu, jam setengah 6 saya terburu-buru berangkat dari rumah di Jagakarsa menuju ke Jatinegara untuk menjemput istri. Di Rasuna deket terowongan Casablanca, saya masuk ke jalur cepat. Saya memutuskan masuk karena sebelumnya pernah lihat beberapa kali ada sepeda motor yang masuk situ sehingga berfikir bahwa itu jalur yang diperbolehkan. Tidak jauh dari situ ada putar balik, saya menuju ke arah itu karena mau lewat Tebet. Tiba-tiba polisi menyemprit kemudian menghadang saya.
“Selamat pagi pak. Tahu kesalahan Bapak?” Tanya Polisi sambil memberi hormat. “Tidak tahu pak.” Polisi kemudian menjelaskan kalau jalur ini tidak boleh putar balik. Kalau mau putar balik masuknya di depan Setiabudi One. Sayapun mengangguk dan mengakui kesalahan karena tidak tahu.
“Ditilang ya pak?” “Ya,” jawabku. “Tapi bapak sudah tahu belum cara mengurusnya ketika sidang nanti?” Saya jawab tidak tahu karena belum pernah ditilang. “Apa dibantu di sini aja Pak biar enak ngurusnya?” Saya menolak. Maksud Polisi itu jelas, dia minta bayar di tempat. Saya memilih untuk ikut sidang walau mungkin tidak simpel, tapi uangnya masuk ke kas negara. Sudah salah masa melakukan kesalahan lagi dengan tidak mengikuti aturan. Polisi meminta lagi dan saya tetap menolaknya, diapun menulis surat tilang walau mungkin hatinya agak dongkol.
Jumat minggu depannya, sekitar jam 9:30 saya menuju ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang ada di jalan Ampera Raya. Kaget ternyata di depan banyak sekali sepeda motor yang parkir. Saya sampai parkir di tempat yang agak jauh dari pengadilan negeri karena saking penuhnya. Di pikiran saya saat itu adalah jangan-jangan ada tokoh politik atau tokoh masyarakat seperti Abu Bakar Baasyir yang disidang.
Saya masuk ke dalam gedung sekitar jam 10 pagi, tanya sana sini dengan menunjukkan surat tilang kemudian ditunjukkan ruang sidang yang dimaksud. Lebih kaget lagi, di depan pintu banyak sekali orang berjejal. Gaduh. Ada yang berteriak-teriak. Kemudian ada yang menanyai apakah mau ngurus sidang, saya mengangguk. Surat sidangku diminta untuk dikumpulkan kolektif dan diserahkan ke petugas. Sayapun ikut ke dalam kerumunan orang dan berdiri berdesak-desakan dengan aneka rasa bau keringat. Petugas dengan suara lantang memanggil nama orang yang disidang satu per satu. Seperti tanpa harapan karena saking banyaknya orang dan beberapa orang yang bareng belum ada satupun yang dipanggil. Sampai jam 11:30 masih belum ada tanda-tanda dan petugas memberitahu istirahat untuk sholat Jum’at dan mulai lagi jam 13:00.
Selesai Jum’atan, saya mengambil lunch box, bekal dari rumah untuk makan siang agar ada energi untuk antri. Jam 13:00 saya kembali ikut antrian yang seolah tanpa harapan.
Hingga sekitar jam 14:00 nama saya dipanggil. Kemudian masuk ke ruang sidang. Di dalam sudah banyak orang yang duduk di bangku menunggu panggilan dari Hakim. Jadi antri masih belum berakhir. Sekitar setengah jam nama saya dipanggil. Saya maju ke depan meja Hakim. Ditanya pelanggaran apa, saya jawab apa adanya. Hanya itu. Kemudian Hakim menulis di struk dengan jenis pelanggaran dan denda yang harus di bayar senilai Rp 50.000 dan biaya administrasi. Setelah itu menuju ke bagian bendahara dan menyetor uang sejumlah yang ditentukan. SIM yang disita dikembalikan. Alhamdulillah.. Perjuangan telah usai. Dalam hati berkata, “nggak lagi-lagi deh kayak gini, mau ikut aturan kok malah dengan perjuangan berat kayak gini.” Banyak orang-orang yang mengeluh seperti itu.
Dengan gontai karena letih, saya berjalan meninggalkan ruang sidang. Melewati ruang-ruang di Pengadilan Negeri. Tanpa sengaja, mata tertuju pada tulisan “PERS”. Saya lupa persisnya, intinya adalah tempat pengurusan untuk wartawan kerjasama dengan Dewan Pers. Syarat membawa bukti media tempat bekerja berupa kartu pers dan edisi terakhir penerbitan media untuk koran dan majalah. “Damn!” umpat dalam hati. Kemudian berusaha menghibur diri bahwa bagaimanapun juga, ini memberi pengalaman berharga.
Hidup di Indonesia itu kalau sesuai aturan kadang malah lebih susah. Tapi itu adalah pilihan. Karena jangankan hukum buatan manusia, untuk hidup sesuai aturan agama jauh lebih berat lagi. Banyak sekali godaan, apalagi di kota seperti Jakarta. Usaha untuk istiqomah itu ekstra berat.
Posted with WordPress for BlackBerry.
COMMENTS