Google memperkenalkan pustaka rosjava yang memanfaatkan smartphone dan komputasi awan untuk membuat robot cerdas. Robotika semakin dimi...
Google memperkenalkan pustaka rosjava yang memanfaatkan smartphone dan komputasi awan untuk membuat robot cerdas.
Robotika semakin diminati dan akan terus berkembang pesat. Tidak hanya di negara-negara maju, di Indonesia-pun sudah mulai banyak yang jago membuat robot khususnya di kalangan pelajar. Dukungan dari berbagai pihakpun cukup besar. Bahkan sekarang di Indonesia sudah ada Rumah Robot, yaitu galeri untuk memamerkan robot-robot buatan anak negeri. Besarnya potensi robot tak lepas dari perhatian raksasa teknologi yaitu Google. Perusahaan yang memiliki produk Android dengan logo robot hijau ini semakin intens untuk ikut mendukung perkembangan robotika.
Di ajang Google I/O 2011, Google memperkenalkan pustaka rosjava sebagai implementasi murni Java pertama untuk ROS (Robot Operating System). Pustaka ini dikembangkan Google dengan tujuan memungkinkan aplikasi canggih Android untuk robotika yang dengan mudah terhubung ke layanan cloud computing. Pustaka, alat, dan perangkat keras yang ada di perangkat Android dianggap sangat cocok untuk robotika. Apalagi secara teknologi, perangkat bergerak baik smartphone maupun tablet adalah perangkat komputasi canggih dengan sensor dan kapabilitas interaksi pengguna yang mumpuni.
Hal ini dibuktikan pada sesi demo robot yang dibuat oleh iRobot da Willow Garage. iRobot memiliki robot yang memakai tablet sebagai kepada dan unit pengontrol. Sementara itu Willow Garage mendemonstrasikan bagaimana tablet Android bisa mendengar dan melihat lewat robot PR2. Ryan Hickman, Google Project Manager berargumen bahwa konektivitas mobile dan komputasi awan akan memberikan kapabilitas baru bagi robot. Dengan menyimpan aplikasi seperti pemetaan dan sensor angka-angka di awan, robot bisa lebih berguna dan murah. “Jasa pemetaan, suara dan teks serta optik pengenalan karakter semuanya adalah perangkat tambahan cloud yang bisa dibawa ke robot,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa alasan pentingnya robot terhubung ke komputasi awan. Pertama, jika sejumlah robot yang satu sama lain menyadari lokasi kehadiran, tindakan dan situasi melalui komunikasi awan, mereka lebih efektif untuk tahu lebih banyak daripada yang dilakukan jika tidak berhubungan satu sama lain. Kedua, robot tidak memerlukan biaya mahal karena komputasi dikerjakan di awan. Hanya chip komputer high-end yang melakukan komputasi secara lokal. Ketiga, robot akan hemat baterai dan memori. Tetapi, karena hanya bekerja ketika terhubung ke cloud, maka ketika tidak ada koneksi robot hanya akan mempertahankan bit terakhir data yang diterima dan beropasi sampai ada sambungan lagi ke awan.
Melihat Google yang selangkah lebih maju, pesaing abadinya yaitu Microsoft tak tinggal diam. Robotics Developer Studio, sebuah platform perangkat lunak milik Microsoft untuk pemrograman robot pada Juli 2011 mengumumkan dukungannya untuk aksesoris game Xbox Kinect. Dukungan ini memungkinkan pengembang untuk membuat program robot yang bisa digunakan Kinect untuk melihat dan mendengar. Interaksi video game melalui gesture telah dimanfaatkan komunitas hacker dalam penambahan layanan Kinect untuk robotika. Microsoft juga baru membeli perusahaan chip pendeteksi gesture Canesta.
Menurut EEETimes, jika chip tersebut sudah dikomersilkan, maka Kinect maupun ponsel yang dijadikan robot kecil bisa melakukan pengenalan lebih canggih lagi pada gesture antarmuka alami, navigasi otonom dan tugas-tugas lain. Mungkin beberapa tahun lagi, rumah Anda akan memiliki beberapa robot untuk membantu tugas sehari-hari. Persis seperti yang kita saksikan di film-film.
Robotika semakin diminati dan akan terus berkembang pesat. Tidak hanya di negara-negara maju, di Indonesia-pun sudah mulai banyak yang jago membuat robot khususnya di kalangan pelajar. Dukungan dari berbagai pihakpun cukup besar. Bahkan sekarang di Indonesia sudah ada Rumah Robot, yaitu galeri untuk memamerkan robot-robot buatan anak negeri. Besarnya potensi robot tak lepas dari perhatian raksasa teknologi yaitu Google. Perusahaan yang memiliki produk Android dengan logo robot hijau ini semakin intens untuk ikut mendukung perkembangan robotika.
Di ajang Google I/O 2011, Google memperkenalkan pustaka rosjava sebagai implementasi murni Java pertama untuk ROS (Robot Operating System). Pustaka ini dikembangkan Google dengan tujuan memungkinkan aplikasi canggih Android untuk robotika yang dengan mudah terhubung ke layanan cloud computing. Pustaka, alat, dan perangkat keras yang ada di perangkat Android dianggap sangat cocok untuk robotika. Apalagi secara teknologi, perangkat bergerak baik smartphone maupun tablet adalah perangkat komputasi canggih dengan sensor dan kapabilitas interaksi pengguna yang mumpuni.
Hal ini dibuktikan pada sesi demo robot yang dibuat oleh iRobot da Willow Garage. iRobot memiliki robot yang memakai tablet sebagai kepada dan unit pengontrol. Sementara itu Willow Garage mendemonstrasikan bagaimana tablet Android bisa mendengar dan melihat lewat robot PR2. Ryan Hickman, Google Project Manager berargumen bahwa konektivitas mobile dan komputasi awan akan memberikan kapabilitas baru bagi robot. Dengan menyimpan aplikasi seperti pemetaan dan sensor angka-angka di awan, robot bisa lebih berguna dan murah. “Jasa pemetaan, suara dan teks serta optik pengenalan karakter semuanya adalah perangkat tambahan cloud yang bisa dibawa ke robot,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa alasan pentingnya robot terhubung ke komputasi awan. Pertama, jika sejumlah robot yang satu sama lain menyadari lokasi kehadiran, tindakan dan situasi melalui komunikasi awan, mereka lebih efektif untuk tahu lebih banyak daripada yang dilakukan jika tidak berhubungan satu sama lain. Kedua, robot tidak memerlukan biaya mahal karena komputasi dikerjakan di awan. Hanya chip komputer high-end yang melakukan komputasi secara lokal. Ketiga, robot akan hemat baterai dan memori. Tetapi, karena hanya bekerja ketika terhubung ke cloud, maka ketika tidak ada koneksi robot hanya akan mempertahankan bit terakhir data yang diterima dan beropasi sampai ada sambungan lagi ke awan.
Melihat Google yang selangkah lebih maju, pesaing abadinya yaitu Microsoft tak tinggal diam. Robotics Developer Studio, sebuah platform perangkat lunak milik Microsoft untuk pemrograman robot pada Juli 2011 mengumumkan dukungannya untuk aksesoris game Xbox Kinect. Dukungan ini memungkinkan pengembang untuk membuat program robot yang bisa digunakan Kinect untuk melihat dan mendengar. Interaksi video game melalui gesture telah dimanfaatkan komunitas hacker dalam penambahan layanan Kinect untuk robotika. Microsoft juga baru membeli perusahaan chip pendeteksi gesture Canesta.
Menurut EEETimes, jika chip tersebut sudah dikomersilkan, maka Kinect maupun ponsel yang dijadikan robot kecil bisa melakukan pengenalan lebih canggih lagi pada gesture antarmuka alami, navigasi otonom dan tugas-tugas lain. Mungkin beberapa tahun lagi, rumah Anda akan memiliki beberapa robot untuk membantu tugas sehari-hari. Persis seperti yang kita saksikan di film-film.

COMMENTS